Archive for the 'Life in Review' Category

Pecut dalam bertindak!

Pada suatu sore dengan sedih Ree memutuskan untuk tidak melanjutkan studi di bangku kuliah. Ia berbicara dengan orang tua nya waktu itu dengan penuh keyakinan.

Orang tuanya sadar, bahwa memang dari sejak SD dulu Ree adalah satu-satunya anak mereka yang memiliki prestasi secara akademik kurang memuaskan diantara saudara-saudaranya yang berjumlah sembilan orang.

Diantara kesembilan saudara-saudaranya itu, rata-rata mereka melanjutkan ke jenjang sarjana atau diploma dan memiliki ijazah yang memadai sehingga harapan untuk diterima menjadi PNS tercapai. Berkat lobi sana sini sembilan orang tersebut terangkat menjadi PNS dengan gaji yang lumayan untuk taraf hidup standar sebelum krismon 1998.

Ree merantau di ibu kota dimana salah satu kakaknya merupakan salah satu pengusaha sukses sebagai fotografer dan pemilik studio photo. Sementara Ree luntang-lantung kesana kemari mencari kerja di kota yang kira -kira membutuhkan keterampilan yang kira-kira sesuai dengan yang dia miliki. Ia tidak merasa perlu meminta pekerjaan ataupun ditampung oleh kakaknya sementara Ia mendapat pekerjaan yang mapan. Ia berniat untuk mandiri, membangun semua cita-citanya dari Nol, dengan seminimal mungkin bantuan dari saudara-saudaranya yang telah mapan secara ekonomi.

Ree adalah Ree. Sejak dulu Ia memiliki prinsip, belajar menghadapi hidup dengan penuh kesabaran dan percaya diri bukanlah hal yang sia-sia.

Kini, dengan sedikit modal dari Mama yang sangat mengerti akan keinginan dan cita-cita anaknya, Ree akhirnya nekat mengontrak sebuah kost di pinggir jalan masuk sebuah gang di kompleks kost-kost an mahasiswa. Ia membuka usaha penyewaan komik disana. Memulai usaha dengan membeli komik dan buku cerita bekas di pasar loak, akhirnya dengan modal seadanya Ia memulai bisnis nya.

Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu, tidak sampai setahun mulai terlihat jerih payah nya. Sebagai lajang tamatan SMEA ternyata dari hasil sewa menyewa komik dia bisa membiayai hidupnya, membayar sewa bulanan kost, dan menabung sedikit demi sedikit buat jaga-jaga.

Untuk penghasilan seperti itu Ree berpikir tidak akan cukup jika harus mengandalkan usahanya sekarang untuk membiayai hidup ketika dia mulai memiliki anak dan istri. Ia pun mencoba ikut kakak nya sang fotografer. Mencari pengalaman dan belajar fotografi disana.

Selama ikut kakak nya, Ia secara personal tidak sempat mendapatkan pelajaran yang cukup sebagai fotografer professional karena kesibukan kakaknya yang begitu padat disamping mengurus bisnis fotografi juga sebagai seorang guru SMA (guru PNS).

Apa yang diingat Ree adalah wejangan dari mentor kakak nya sang fotografer soal cetak mencetak foto hitam putih juga perhitungan teknis pengambilan gambar melalui kamera.  Waktu itu secara tidak sengaja Ree mendengar pembicaraan kakaknya dengan mentor tersebut soal fotografi. Namun tidak semua hal teringat jelas di benak Ree, sebagian kecil saja mungkin iya.

Nekat ia mencoba-coba belajar secara otodidak cetak-mencetak foto, memotret, dan berbagai hal yang berbau-bau teknis fotografi. Ia tidak kenal lelah untuk belajar, meskipun harus memakai cara klasik untuk belajar yaitu Trial & Error.

Akhirnya Ree menemukan semua tekniknya meskipun semuanya berdasarkan feeling atau pun insting semata. Ia menemukan teknik membuat pencahayaan yang bagus, mencetak  foto, dll., semuanya ia temukan otodidak.

Buah kerja keras nya menghasilkan. Ia pun mencoba membuka usaha fotografi dan cetak foto hitam putih kecil-kecilan di kost-kostan nya.  

Pelanggan-pelanggan komiknya yang sebagian besar mahasiswa mengetahui kepandaian Ree dalam bidang fotografi, dan dari mulut kemulut Ree dikenal sebagai fotografer cukup handal dalam membuat hasil foto yang bagus. Mahasiswa senang akan hasil akhir sentuhan karya Ree dalam bentuk fas foto. Orang biasa pun di foto oleh Ree terlihat jadi lebih keren.

Ree cukup beken di sekitar komplek kost-kostan, dan seiring berjalan nya waktu mahasiswa-mahasiswa banyak yang berkunjung ke studio Ree untuk foto.

Ree makin terkenal di kotanya semenjak rektor sebuah universitas negeri di kotanya mempercayakan Ree sebagai fotografer tetap universitas tersebut. Lembaga pemerintah sering pula mempercayakan dokumentasi kepada Ree.

Kini, Ree adalah pemilik studio foto terbesar di kotanya, Ree’s Photo Studio. Dengan penghasilan yang sangat-sangat jauh diatas penghasilan rata-rata saudaranya yang juga PNS.

Ia jadi ingat sebuah pernyataan kakak sulungnya yang juga PNS, “Ree, andaikan kamu bisa memiliki rumah yang lebih bagus dan mewah dari saya dengan hasil kerja keras mu dari wiraswasta saya mengaku kalah. Namun, rasanya susah melihat gaji saya sebagai PNS golongan III/D lebih jauh dari penghasilan mu sekarang…”

Kini Ree tidak perlu tertawa keras atas kemenangan nya, meski Ia telah memiliki rumah mewah lengkap dengan mobil BMW seri terbaru, tidak ada yang perlu di sombongkan. Kembalikan semuanya kepada Tuhan tetap merendah tidaklah sia-sia. Pernyataan yang terlontar dari sang Kakak Sulung adalah pecut yang telah memotivasi dia sehingga menjadi seperti sekarang…

Dedicated to My Uncle : Ree’s

Get Started with Your Vision

Seperti kebanyakan orang, saya terkadang ragu untuk memberanikan diri memulai suatu hal yang benar-benar baru dalam kehidupan saya.  Saya memiliki sebuah ide dalam nalar saya dan cukup logis kiranya untuk dijalankan saat ini.

Ide dan pemikiran terhadap sesuatu. Dengan sudut pandang yang berbeda di mata kebanyakan orang, membuat saya jadi ngeri apakah rencana saya akan berhasil sesuai perhitungan saya? Ragu dan takut apakah beda keduanya di saat seperti ini. Saya tidak mengerti. Hati dan pikiran saya bimbang untuk berani memulai nya, meskipun resiko selalu ada tapi apakah perlu saya takut dan ragu?

Sejak dulu saya mengharapkan bahwa suatu ketika momentum yang akan meningkatkan grafik hidup saya datang, apakah ini saat nya? Apakah rencana dan inspirasi yang saya dapatkan akan menjadi momen-momen penting itu? Kapan kah saya harus belajar mempercayai diri sendiri?

Pertanyaan gak akan pernah habis untuk kita pertanyakan kepada diri kita, tentang diri kita, tentang kemampuan kita. Adakalanya perlu untuk langsung saja memulai tanpa harus banyak bertanya, biarkan semua berjalan apa adanya setelah segala sesuatu yang mesti dilakukan telah dilakukan. Tinggalkan rasa ragu dan takut di belakang, biarkan semuanya berjalan seperti Air.

Saya tidak mau kalah sebelum berperang, saya harus memulai rencana-rencana saya, saya harus mengikuti kata hati saya.

Dunia, dengarlah aku ikut berpartisipasi meramaikan mu…